Pilihan itu terkadang tak
menentukan sebuah kesuksesan. Semua pilihan seringkali terhalang oleh batasan
yang merekang semangat seseorang disaat mengalami suatu masalah. Membuat
kinerja dan ikhtiar surut seperti tikus terdamapar dipeti besi, tak dapat berbuat
apa-apa. Disaat semua tikus berkeliaran di sekitar got, loteng, dan pekarangan,
ia terduduk lemah menonton film kolosal sambil meratapi jalan yang pernah ia
pilih sehingga ia terperangkap dan terkurung di gelapnya peti besi.
Melihat keadaan moral dan iman
yang sangat dongkol, tak jarang manusia terbius obat yang terkandung genetik
tikus sehingga tingkah laku dan sifat nya pun sangat mirip dengan tikus yang
suka menggerogot dan merusak. Itulah yang sangat populer di dunia modern ini,
tikus-tikus berdasi tak malu lagi untuk menampakkan gigi.
Di waktu kecil seringkali ayah
bertanya kepadaku,
“nanti kalau udah besar adek mau
jadi apa?”
“aku mau jadi guru...” jawabku
bersemangat.
Namun apabila pertanyaan itu diulang kembali
esok hari nya, jawaban ku tidak lah sama dengan apa yang ku ucap hari ini. Dari
guru menjadi polisi, dokter, guru lagi, dan begitulah urutan yang aku jawab apa
bila ditanyakan tentang cita-citaku, karena cuma profesi itu yang diketahui anak-anak
kecil pada waktu itu. Tetapi berjalan nya usia ku, aku semakin sering berfikir
apakah profesi yang selalu aku inginkan diwaktu kecil itukah yang akan aku
kejar. Akupu ragu akan masa depanku.
Lambat laun setiap manusia yang
berakal akan mengetahui hakekat hidup yang telah ditakdirkan kepada setiap
insan. Berjalan lambat dari pemikiran dangkal di waktu kecil merambat hingga
masa remaja yang disebut pubertas. Masa inilah yang mengandung energi maksimal
untuk mengenal kehidupan liar yang sangat susah di seimbangkan antara emosi dan
rohani. Kadang kala menumbuhkan pemikiran dan hati yang sehat bagi remaja yang
mengetahui batas pergaulan dan tidak sedikit pula yang menumbuhkan akar berduri
yang akan merusak perkembangan akal mereka karena tidak stabil nya emosi yang
mereka hadapi dan seringkali tersesat tak tentu arah dalam rimba globalisasi
modern. Sehingga kedewasaan pun akan selaras dengan pertumbuhan masa remaja
yang akan berubah kapanpun apabila tidak bisa balance dalam sikap dan sifat
mereka.
Saat jati diri telah berada dalam
tahap pendewasaan, disinilah titik awal perjalanan hidup yang akan di jalani.
Menghantui benak manusia, setiap hari, jam, menit, dan detik. Mau dibawa kemana
hidup ini, mau jadi apa diri ini, dan akhir nya akan merujuk kembali kepada pertanyaan yang
sederhana tapi sangat susah sekali untuk dipahami, “untuk apa aku dilahirkan
didunia ini?”. Tentu saja hal ini akan terus menjadi masalah yang tak pernah
selesai apabila seseorang tidak pernah memiliki pendidikan aqidah dan
pendidikan moral. Oleh karena itu pendidikan sangatlah penting ditanam kan
kepeda setiap insan dari dalam rahim hingga liang tanah.
Aku adalah anak dari dua orang
yang sangat mementingkan sekali pendidikan. Karena ayah dan ibu ku adalah orang
yang berpendidikan. Apapun akan dilakukan untuk pendidikan anaknya. Ayah ku
seorang guru dan ibuku seorang bidan. Ayah selalu mengatakan sesuatu yang tidak
pernah bisa aku lupukan. “kamu mau pintar? kamu mau sukses? Dan kamu mau
bahagia? Berlajarlah dengan tekun dan serius. Karena untuk menjadi orang yang
sukses dan bahagia tidaklah mudah nak, tidaklah semulus kain sutra, haruslah
ada pengerbonan untuk mencapai semua itu. Ambil resiko sebesar mungkin untuk
hidupmu dan jangan pernah lupa doa dan usaha, tetaplah berada di jalan Allah
Swt.” Itulah pendidikan bagi ayah dan ibuku.
Setiap individu yang terlahir di
dunia ini telah diktakdirkan untuk saling bersaing. Kodratnya adalah persaingan
secara sehat bukan persaingan hitam atau persaingan yang tidak sehat. Di dalam
ilmu biologi kajian reproduksi manusia, telah mengkaji bahwa sel-sel sperma
yang di salurkan ke dalam rahim wanita sangatlah kompeten untuk sampai kedalam
rahim. Dari ribuan sel sperma yang bersaing itu tidak lebih dari tiga atau dua
dan biasanya hanya satu sel saja yang sampai untuk di reproduksi. Begitu ketat
persaingan yang dihadapi untuk sampai dan terlahir ke permukaan bumi ini. Dari
situlah awal persaingan manusia yang melekat erat di dalam diri masing-masing
individu. Apakah persaingan sudah cukup sampai di situ. Masih banyak lagi
persaingan-persaingan yang akan dilewati. Salah satunya persaingan didalam
keluarga yang belomba untuk memberi nama bayi yang baru lahir itu. Nama yang
terpilih dari pilihan salah satu anggota keluarga itulah yang akan melekat di
akte kelahiran nya. Kata sebagian orang nama itu adalah do’a, maka beruntunglah
bayi yang mendapatkan nama sebagai do’a yang baik. Bayi yang beruntung itu
salah satunya adalah aku. Karena aku memiliki nama yang sangat indah di jagad
raya ini, dan do’a yang sangat ampuh untuk hidup. ALFATH SHOLEH.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar