Selasa, 07 Oktober 2014

the one



Pilihan itu terkadang tak menentukan sebuah kesuksesan. Semua pilihan seringkali terhalang oleh batasan yang merekang semangat seseorang disaat mengalami suatu masalah. Membuat kinerja dan ikhtiar surut seperti tikus terdamapar dipeti besi, tak dapat berbuat apa-apa. Disaat semua tikus berkeliaran di sekitar got, loteng, dan pekarangan, ia terduduk lemah menonton film kolosal sambil meratapi jalan yang pernah ia pilih sehingga ia terperangkap dan terkurung di gelapnya peti besi.
Melihat keadaan moral dan iman yang sangat dongkol, tak jarang manusia terbius obat yang terkandung genetik tikus sehingga tingkah laku dan sifat nya pun sangat mirip dengan tikus yang suka menggerogot dan merusak. Itulah yang sangat populer di dunia modern ini, tikus-tikus berdasi tak malu lagi untuk menampakkan gigi.
Di waktu kecil seringkali ayah bertanya kepadaku,
“nanti kalau udah besar adek mau jadi apa?”
“aku mau jadi guru...” jawabku bersemangat.
 Namun apabila pertanyaan itu diulang kembali esok hari nya, jawaban ku tidak lah sama dengan apa yang ku ucap hari ini. Dari guru menjadi polisi, dokter, guru lagi, dan begitulah urutan yang aku jawab apa bila ditanyakan tentang cita-citaku, karena cuma profesi itu yang diketahui anak-anak kecil pada waktu itu. Tetapi berjalan nya usia ku, aku semakin sering berfikir apakah profesi yang selalu aku inginkan diwaktu kecil itukah yang akan aku kejar.  Akupu ragu akan masa depanku.
Lambat laun setiap manusia yang berakal akan mengetahui hakekat hidup yang telah ditakdirkan kepada setiap insan. Berjalan lambat dari pemikiran dangkal di waktu kecil merambat hingga masa remaja yang disebut pubertas. Masa inilah yang mengandung energi maksimal untuk mengenal kehidupan liar yang sangat susah di seimbangkan antara emosi dan rohani. Kadang kala menumbuhkan pemikiran dan hati yang sehat bagi remaja yang mengetahui batas pergaulan dan tidak sedikit pula yang menumbuhkan akar berduri yang akan merusak perkembangan akal mereka karena tidak stabil nya emosi yang mereka hadapi dan seringkali tersesat tak tentu arah dalam rimba globalisasi modern. Sehingga kedewasaan pun akan selaras dengan pertumbuhan masa remaja yang akan berubah kapanpun apabila tidak bisa balance dalam sikap dan sifat mereka.
Saat jati diri telah berada dalam tahap pendewasaan, disinilah titik awal perjalanan hidup yang akan di jalani. Menghantui benak manusia, setiap hari, jam, menit, dan detik. Mau dibawa kemana hidup ini, mau jadi apa diri ini, dan akhir nya  akan merujuk kembali kepada pertanyaan yang sederhana tapi sangat susah sekali untuk dipahami, “untuk apa aku dilahirkan didunia ini?”. Tentu saja hal ini akan terus menjadi masalah yang tak pernah selesai apabila seseorang tidak pernah memiliki pendidikan aqidah dan pendidikan moral. Oleh karena itu pendidikan sangatlah penting ditanam kan kepeda setiap insan dari dalam rahim hingga liang tanah.
Aku adalah anak dari dua orang yang sangat mementingkan sekali pendidikan. Karena ayah dan ibu ku adalah orang yang berpendidikan. Apapun akan dilakukan untuk pendidikan anaknya. Ayah ku seorang guru dan ibuku seorang bidan. Ayah selalu mengatakan sesuatu yang tidak pernah bisa aku lupukan. “kamu mau pintar? kamu mau sukses? Dan kamu mau bahagia? Berlajarlah dengan tekun dan serius. Karena untuk menjadi orang yang sukses dan bahagia tidaklah mudah nak, tidaklah semulus kain sutra, haruslah ada pengerbonan untuk mencapai semua itu. Ambil resiko sebesar mungkin untuk hidupmu dan jangan pernah lupa doa dan usaha, tetaplah berada di jalan Allah Swt.” Itulah pendidikan bagi ayah dan ibuku.
Setiap individu yang terlahir di dunia ini telah diktakdirkan untuk saling bersaing. Kodratnya adalah persaingan secara sehat bukan persaingan hitam atau persaingan yang tidak sehat. Di dalam ilmu biologi kajian reproduksi manusia, telah mengkaji bahwa sel-sel sperma yang di salurkan ke dalam rahim wanita sangatlah kompeten untuk sampai kedalam rahim. Dari ribuan sel sperma yang bersaing itu tidak lebih dari tiga atau dua dan biasanya hanya satu sel saja yang sampai untuk di reproduksi. Begitu ketat persaingan yang dihadapi untuk sampai dan terlahir ke permukaan bumi ini. Dari situlah awal persaingan manusia yang melekat erat di dalam diri masing-masing individu. Apakah persaingan sudah cukup sampai di situ. Masih banyak lagi persaingan-persaingan yang akan dilewati. Salah satunya persaingan didalam keluarga yang belomba untuk memberi nama bayi yang baru lahir itu. Nama yang terpilih dari pilihan salah satu anggota keluarga itulah yang akan melekat di akte kelahiran nya. Kata sebagian orang nama itu adalah do’a, maka beruntunglah bayi yang mendapatkan nama sebagai do’a yang baik. Bayi yang beruntung itu salah satunya adalah aku. Karena aku memiliki nama yang sangat indah di jagad raya ini, dan do’a yang sangat ampuh untuk hidup. ALFATH SHOLEH.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar