Aku, Hulk tanpa Man...
Terkadang semua khayalan itu diartikan mimpi bagi orang-orang. Tapi
bagiku khayalan itu adalah harapan. Waktu kecil aku senang sekali berkhayal
menjadi Superman, Batman, Spiderman, Hulk, dan lain-lainnya. Tapi aku berpikir bahwa orang-orang yang
menciptakan film-film manusia super itu tidak semuanya sayang akan karya-karya
yang telah diciptakan oleh mereka. Contohnya saja Hulk. Hulk tidak diberi
kepastian yang jelas tentang gendernya, apakah dia pria atau wanita. Kita bisa
lihat dari namanya. Mengapa Hulk tidak diberi “MAN” di belakang namanya menjadi
“Hulkman” seperti Superman, Batman, Spiderman. Padahal Hulk bisa dibilang
manusia super yang sangat kreatif dan tidak lebay dibandingkan yang lainnya.
Kenapa dibilang kreatif karena jiwa nya sangat kental dengan seni. Dia
menggunakan colour art di tubuh nya seperti pertunjukan seni para pengamen
jalanan Paris yang eksotis. Dan tidak tanggung-tanggung, ia memilih warna hijau
untuk tubuhnya. Karena hijau itu melambangkan kehidupan yang sangat indah,
begitu juga dengan tanggung jawab Hulk sebagai manusia super yaitu menjaga
kehidupan manusia agar aman dan tentram. Mengapa Hulk dibilang tidak lebay,
karena ia sangat apa adanya. Saat yang lain sibuk dengan kostum menor dan
glamor nya, Hulk hanya memakai celana pendek dan tidak pakai baju, setidaknya
bisa menghemat kain negara. Satu pelajaran yang bisa diambil dari pendiskriminasian
Hulk yaitu bahagialah dengan hidupmu, karena dalam dirimu terdapat kekuatan,
walaupun sebagai waria.
Khayalan adalah imajinasi yang luar biasa yang tidak dapat di beli
dengan apapun. Pernah kah kau berpikir berkhayal untuk orang lain dan diberi
imbalan atas khayalan itu. Sepertinya sangat mustahil, karena setiap insan
memiliki kemampuan alam bawah sadar untuk berimajinasi, berkhayal ataupun
bermimpi.
“Sela..” mama memanggilku dari luar kamar.
Iya, namaku Sela Sara. Dipanggil sela. Mendengar nama Sela, semua
orang yang belum mengenalku pasti mengira bahwa aku ini adalah wanita. Tapi aku
adalah pria yang terperangkap dalam raga wanita. Semua aspek yang ada dalam
diriku tidak ada satupun yang menunjukkan bahwa aku seorang wanita.
“Sel bangun, kamu kuliah nya jam tujuh kan, lihat jam deh sekarang udah
jam berapa.” Mama kembali membangunkanku.
“iya ma, sela udah bangun. Emang sekarang jam berapa ma?, jam sela
mati”
“jam delapan sel”
“apaaa...?? sela telat ma, kok baru bangunin sih”
“oh iya ya?, maaf ya, mama sengaja. Hihihi” dengan ledekan pagi.
Begitulah keseharianku sebagai seorang wanita bangun pagi.
Aku selalu berkhayal, suatu hari nanti aku akan menjadi lelaki
sejati dan meminang seorang wanita yang solehah dan akan menjadi ayah serta
suami yang bertanggung jawab. Tapi, semua itu mustahil. Karena diriku memang
sudah ditakdirkan terlahir sebagai wanita, seperti Hulk yang tercipta tanpa MAN
di belakang namanya.
Aku adalah seorang mahasiswi UIN SGD Bandung, dengan jurusan
Pendidikan Matematika. Mahasiswi Yang selalu menjunjung tinggi nilai
ke-Islaman, dengan secercah kain yang membuat gerah di kepalaku, dan
peraturan-peraturan yang sangat mengekang dan mengunci mati hatiku. Karena aku
mengambil prodi Pendidikan Matematika yang berada di dalam naungan fakultas
Tarbiyah dan Keguruan, maka setiap mahasiswa-mahasiswi nya harus memakai busana
yang sopan pada saat perkuliahan. Tidak boleh pakai bahan jeans dan bahan yang
terlihat membentuk tubuh apabila dipakai. Dengan alasan semua
mahasiswa-mahasiswi tarbiyah dan keguruan akan keluar sebagai guru dan harus
melatih diri menjadi seorang guru.
Sebenarnya aku lebih suka sastra di bandingkan matematika. Karena
sastra lebih indah dan lebih bebas dari pada matematika yang harus selalu benar
dan menuhankan rumus untuk mencari sebuah kebenaran. Namun, lagi-lagi takdirku
yang membawaku kepada jurusan ini. Tapi walaupun aku seorang mahasiswi
matematika, aku lebih sering menulis puisi, cerpen, dan karangan bebas
dibandingkan menghafal rumus-rumus yang lebih mirip dengan retakan tanah usang
karena dehidrasi.
Seringkali ibu memarahiku apabila membawa temen cowok kerumah. Ibu
marah bukan karena aku belum boleh pacaran, karena dengan umurku yang sudah 21
tahun,aku udah bisa dibilang cukup umur untuk pacaran. Namun ibu marah karena
aku tidak sekalipun membawa temen cewek kerumahku, dan ibu khawatir akan
obrolan tetangga karena udah hampir 100 cowok yang aku bawa kerumah sejak aku
berumur 9 tahun sampai umurku 21 tahun. Itu bukan karena aku wanita murahan
yang suka gonta-ganti pacar karena uang ataupun tampang. Tapi, karena aku hanya
berteman dengan laki-laki sejak kecil sampai sekarang dan tidak pernah berteman
dengan perempuan.
Saat aku duduk di kelas 2 SMP, aku pernah dekat dan berteman dengan
wanita, Krisda namanya. Dia adalah gadis remaja yang cantik, anggun, dan
pintar. Bedanya dengan aku, aku adalah gadis remaja yang cantik, manis, tapi
agak sedikit mistis. Karena arwah kelelakianku selalu menghantui sifat-sifat
feminin ku yang sangat kecil. Awal pertemanan kita bermula dari pagi yang indah
saat anak-anak ayam berangkat ke sekolah yang di temani oleh induk-induknya
yang hampir terlambat datang kekantor dengan senyuman yang mengkhawatirkan saat
berjumpa pak Kepala Sekolah yang setiap hari senin menunggu siswa-siswa nya di
depan gerbang dan sang induk pun berkata kepada bapak Kepala Sekolah,
“titip sela ya pak, kalo sela nya bandel, cubit aja. Da
sayangg....” tanpa turun dari dalam mobil dan melaju.
Pagi itu setelah semua anak-anak ayam masuk melewati gerbang dan Kepsek
bermuka dua itu, semuanya siap-siap untuk memulai upacara bendera. Mengapa
bapak Kepsek aku bilang bermuka dua. Karena kalo berdiri dedepan para induk
ayam muka dan suaranya ramah sekali seperti orang jawa. Tapi kalo sudah berdiri
diatas mimbar lapangan upacara, muka nya berubah menjadi muka hanoman dan
suaranya berubah seperti suara orang batak.
“Barang siapa yang tidak memakai seragam lengkap, maju kedepan”,
teriak pak Kepsek dengan mata melotot.
Serentak tubuhku kaku, karena aku lupa membawa dasi. Dan yang lebih
parahnya lagi yang maju kedepan Cuma dua orang anak ayam betina saja, yaitu aku
dan Krisda. Semenjak saat itu aku dan Krisda menjadi agak dekat setelah dihukum
membersihkan WC sekolah. Tapi, pertemanan itu hanya berumur 2 minggu. Karena, diam-diam
aku suka pada Krisda dan mencoba mencium nya saat kita kerja kelompok. Setelah
itu, Krisda tidak mau lagi berteman denganku. Dan Krisda adalah satu-satunya
yang pernah menjadi teman wanita ku sampai saat ini.
Tak jarang aku mengutuk tuhan yang telah memberiku hidup seperti
ini. Mungkin Hulk juga akan mengutuk tuhan jika ia tidak takut untuk kehilangan
kekuatan. Aku adalah Hulk tanpa Man.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar