Selasa, 07 Oktober 2014

aku, hulk tanpa man



Aku, Hulk tanpa Man...
Terkadang semua khayalan itu diartikan mimpi bagi orang-orang. Tapi bagiku khayalan itu adalah harapan. Waktu kecil aku senang sekali berkhayal menjadi Superman, Batman, Spiderman, Hulk, dan lain-lainnya. Tapi  aku berpikir bahwa orang-orang yang menciptakan film-film manusia super itu tidak semuanya sayang akan karya-karya yang telah diciptakan oleh mereka. Contohnya saja Hulk. Hulk tidak diberi kepastian yang jelas tentang gendernya, apakah dia pria atau wanita. Kita bisa lihat dari namanya. Mengapa Hulk tidak diberi “MAN” di belakang namanya menjadi “Hulkman” seperti Superman, Batman, Spiderman. Padahal Hulk bisa dibilang manusia super yang sangat kreatif dan tidak lebay dibandingkan yang lainnya. Kenapa dibilang kreatif karena jiwa nya sangat kental dengan seni. Dia menggunakan colour art di tubuh nya seperti pertunjukan seni para pengamen jalanan Paris yang eksotis. Dan tidak tanggung-tanggung, ia memilih warna hijau untuk tubuhnya. Karena hijau itu melambangkan kehidupan yang sangat indah, begitu juga dengan tanggung jawab Hulk sebagai manusia super yaitu menjaga kehidupan manusia agar aman dan tentram. Mengapa Hulk dibilang tidak lebay, karena ia sangat apa adanya. Saat yang lain sibuk dengan kostum menor dan glamor nya, Hulk hanya memakai celana pendek dan tidak pakai baju, setidaknya bisa menghemat kain negara. Satu pelajaran yang bisa diambil dari pendiskriminasian Hulk yaitu bahagialah dengan hidupmu, karena dalam dirimu terdapat kekuatan, walaupun sebagai waria.
Khayalan adalah imajinasi yang luar biasa yang tidak dapat di beli dengan apapun. Pernah kah kau berpikir berkhayal untuk orang lain dan diberi imbalan atas khayalan itu. Sepertinya sangat mustahil, karena setiap insan memiliki kemampuan alam bawah sadar untuk berimajinasi, berkhayal ataupun bermimpi.
“Sela..” mama memanggilku dari luar kamar.
Iya, namaku Sela Sara. Dipanggil sela. Mendengar nama Sela, semua orang yang belum mengenalku pasti mengira bahwa aku ini adalah wanita. Tapi aku adalah pria yang terperangkap dalam raga wanita. Semua aspek yang ada dalam diriku tidak ada satupun yang menunjukkan bahwa aku seorang wanita.
“Sel bangun, kamu kuliah nya jam tujuh kan, lihat jam deh sekarang udah jam berapa.” Mama kembali membangunkanku.
“iya ma, sela udah bangun. Emang sekarang jam berapa ma?, jam sela mati”
“jam delapan sel”
“apaaa...?? sela telat ma, kok baru bangunin sih”
“oh iya ya?, maaf ya, mama sengaja. Hihihi” dengan ledekan pagi. Begitulah keseharianku sebagai seorang wanita bangun pagi.
Aku selalu berkhayal, suatu hari nanti aku akan menjadi lelaki sejati dan meminang seorang wanita yang solehah dan akan menjadi ayah serta suami yang bertanggung jawab. Tapi, semua itu mustahil. Karena diriku memang sudah ditakdirkan terlahir sebagai wanita, seperti Hulk yang tercipta tanpa MAN di belakang namanya.
Aku adalah seorang mahasiswi UIN SGD Bandung, dengan jurusan Pendidikan Matematika. Mahasiswi Yang selalu menjunjung tinggi nilai ke-Islaman, dengan secercah kain yang membuat gerah di kepalaku, dan peraturan-peraturan yang sangat mengekang dan mengunci mati hatiku. Karena aku mengambil prodi Pendidikan Matematika yang berada di dalam naungan fakultas Tarbiyah dan Keguruan, maka setiap mahasiswa-mahasiswi nya harus memakai busana yang sopan pada saat perkuliahan. Tidak boleh pakai bahan jeans dan bahan yang terlihat membentuk tubuh apabila dipakai. Dengan alasan semua mahasiswa-mahasiswi tarbiyah dan keguruan akan keluar sebagai guru dan harus melatih diri menjadi seorang guru.
Sebenarnya aku lebih suka sastra di bandingkan matematika. Karena sastra lebih indah dan lebih bebas dari pada matematika yang harus selalu benar dan menuhankan rumus untuk mencari sebuah kebenaran. Namun, lagi-lagi takdirku yang membawaku kepada jurusan ini. Tapi walaupun aku seorang mahasiswi matematika, aku lebih sering menulis puisi, cerpen, dan karangan bebas dibandingkan menghafal rumus-rumus yang lebih mirip dengan retakan tanah usang karena dehidrasi.
Seringkali ibu memarahiku apabila membawa temen cowok kerumah. Ibu marah bukan karena aku belum boleh pacaran, karena dengan umurku yang sudah 21 tahun,aku udah bisa dibilang cukup umur untuk pacaran. Namun ibu marah karena aku tidak sekalipun membawa temen cewek kerumahku, dan ibu khawatir akan obrolan tetangga karena udah hampir 100 cowok yang aku bawa kerumah sejak aku berumur 9 tahun sampai umurku 21 tahun. Itu bukan karena aku wanita murahan yang suka gonta-ganti pacar karena uang ataupun tampang. Tapi, karena aku hanya berteman dengan laki-laki sejak kecil sampai sekarang dan tidak pernah berteman dengan perempuan.
Saat aku duduk di kelas 2 SMP, aku pernah dekat dan berteman dengan wanita, Krisda namanya. Dia adalah gadis remaja yang cantik, anggun, dan pintar. Bedanya dengan aku, aku adalah gadis remaja yang cantik, manis, tapi agak sedikit mistis. Karena arwah kelelakianku selalu menghantui sifat-sifat feminin ku yang sangat kecil. Awal pertemanan kita bermula dari pagi yang indah saat anak-anak ayam berangkat ke sekolah yang di temani oleh induk-induknya yang hampir terlambat datang kekantor dengan senyuman yang mengkhawatirkan saat berjumpa pak Kepala Sekolah yang setiap hari senin menunggu siswa-siswa nya di depan gerbang dan sang induk pun berkata kepada bapak Kepala Sekolah,
“titip sela ya pak, kalo sela nya bandel, cubit aja. Da sayangg....” tanpa turun dari dalam mobil dan melaju.
Pagi itu setelah semua anak-anak ayam masuk melewati gerbang dan Kepsek bermuka dua itu, semuanya siap-siap untuk memulai upacara bendera. Mengapa bapak Kepsek aku bilang bermuka dua. Karena kalo berdiri dedepan para induk ayam muka dan suaranya ramah sekali seperti orang jawa. Tapi kalo sudah berdiri diatas mimbar lapangan upacara, muka nya berubah menjadi muka hanoman dan suaranya berubah seperti suara orang batak.
“Barang siapa yang tidak memakai seragam lengkap, maju kedepan”, teriak pak Kepsek dengan mata melotot.
Serentak tubuhku kaku, karena aku lupa membawa dasi. Dan yang lebih parahnya lagi yang maju kedepan Cuma dua orang anak ayam betina saja, yaitu aku dan Krisda. Semenjak saat itu aku dan Krisda menjadi agak dekat setelah dihukum membersihkan WC sekolah. Tapi, pertemanan itu hanya berumur 2 minggu. Karena, diam-diam aku suka pada Krisda dan mencoba mencium nya saat kita kerja kelompok. Setelah itu, Krisda tidak mau lagi berteman denganku. Dan Krisda adalah satu-satunya yang pernah menjadi teman wanita ku sampai saat ini.
Tak jarang aku mengutuk tuhan yang telah memberiku hidup seperti ini. Mungkin Hulk juga akan mengutuk tuhan jika ia tidak takut untuk kehilangan kekuatan. Aku adalah Hulk tanpa Man.




the one



Pilihan itu terkadang tak menentukan sebuah kesuksesan. Semua pilihan seringkali terhalang oleh batasan yang merekang semangat seseorang disaat mengalami suatu masalah. Membuat kinerja dan ikhtiar surut seperti tikus terdamapar dipeti besi, tak dapat berbuat apa-apa. Disaat semua tikus berkeliaran di sekitar got, loteng, dan pekarangan, ia terduduk lemah menonton film kolosal sambil meratapi jalan yang pernah ia pilih sehingga ia terperangkap dan terkurung di gelapnya peti besi.
Melihat keadaan moral dan iman yang sangat dongkol, tak jarang manusia terbius obat yang terkandung genetik tikus sehingga tingkah laku dan sifat nya pun sangat mirip dengan tikus yang suka menggerogot dan merusak. Itulah yang sangat populer di dunia modern ini, tikus-tikus berdasi tak malu lagi untuk menampakkan gigi.
Di waktu kecil seringkali ayah bertanya kepadaku,
“nanti kalau udah besar adek mau jadi apa?”
“aku mau jadi guru...” jawabku bersemangat.
 Namun apabila pertanyaan itu diulang kembali esok hari nya, jawaban ku tidak lah sama dengan apa yang ku ucap hari ini. Dari guru menjadi polisi, dokter, guru lagi, dan begitulah urutan yang aku jawab apa bila ditanyakan tentang cita-citaku, karena cuma profesi itu yang diketahui anak-anak kecil pada waktu itu. Tetapi berjalan nya usia ku, aku semakin sering berfikir apakah profesi yang selalu aku inginkan diwaktu kecil itukah yang akan aku kejar.  Akupu ragu akan masa depanku.
Lambat laun setiap manusia yang berakal akan mengetahui hakekat hidup yang telah ditakdirkan kepada setiap insan. Berjalan lambat dari pemikiran dangkal di waktu kecil merambat hingga masa remaja yang disebut pubertas. Masa inilah yang mengandung energi maksimal untuk mengenal kehidupan liar yang sangat susah di seimbangkan antara emosi dan rohani. Kadang kala menumbuhkan pemikiran dan hati yang sehat bagi remaja yang mengetahui batas pergaulan dan tidak sedikit pula yang menumbuhkan akar berduri yang akan merusak perkembangan akal mereka karena tidak stabil nya emosi yang mereka hadapi dan seringkali tersesat tak tentu arah dalam rimba globalisasi modern. Sehingga kedewasaan pun akan selaras dengan pertumbuhan masa remaja yang akan berubah kapanpun apabila tidak bisa balance dalam sikap dan sifat mereka.
Saat jati diri telah berada dalam tahap pendewasaan, disinilah titik awal perjalanan hidup yang akan di jalani. Menghantui benak manusia, setiap hari, jam, menit, dan detik. Mau dibawa kemana hidup ini, mau jadi apa diri ini, dan akhir nya  akan merujuk kembali kepada pertanyaan yang sederhana tapi sangat susah sekali untuk dipahami, “untuk apa aku dilahirkan didunia ini?”. Tentu saja hal ini akan terus menjadi masalah yang tak pernah selesai apabila seseorang tidak pernah memiliki pendidikan aqidah dan pendidikan moral. Oleh karena itu pendidikan sangatlah penting ditanam kan kepeda setiap insan dari dalam rahim hingga liang tanah.
Aku adalah anak dari dua orang yang sangat mementingkan sekali pendidikan. Karena ayah dan ibu ku adalah orang yang berpendidikan. Apapun akan dilakukan untuk pendidikan anaknya. Ayah ku seorang guru dan ibuku seorang bidan. Ayah selalu mengatakan sesuatu yang tidak pernah bisa aku lupukan. “kamu mau pintar? kamu mau sukses? Dan kamu mau bahagia? Berlajarlah dengan tekun dan serius. Karena untuk menjadi orang yang sukses dan bahagia tidaklah mudah nak, tidaklah semulus kain sutra, haruslah ada pengerbonan untuk mencapai semua itu. Ambil resiko sebesar mungkin untuk hidupmu dan jangan pernah lupa doa dan usaha, tetaplah berada di jalan Allah Swt.” Itulah pendidikan bagi ayah dan ibuku.
Setiap individu yang terlahir di dunia ini telah diktakdirkan untuk saling bersaing. Kodratnya adalah persaingan secara sehat bukan persaingan hitam atau persaingan yang tidak sehat. Di dalam ilmu biologi kajian reproduksi manusia, telah mengkaji bahwa sel-sel sperma yang di salurkan ke dalam rahim wanita sangatlah kompeten untuk sampai kedalam rahim. Dari ribuan sel sperma yang bersaing itu tidak lebih dari tiga atau dua dan biasanya hanya satu sel saja yang sampai untuk di reproduksi. Begitu ketat persaingan yang dihadapi untuk sampai dan terlahir ke permukaan bumi ini. Dari situlah awal persaingan manusia yang melekat erat di dalam diri masing-masing individu. Apakah persaingan sudah cukup sampai di situ. Masih banyak lagi persaingan-persaingan yang akan dilewati. Salah satunya persaingan didalam keluarga yang belomba untuk memberi nama bayi yang baru lahir itu. Nama yang terpilih dari pilihan salah satu anggota keluarga itulah yang akan melekat di akte kelahiran nya. Kata sebagian orang nama itu adalah do’a, maka beruntunglah bayi yang mendapatkan nama sebagai do’a yang baik. Bayi yang beruntung itu salah satunya adalah aku. Karena aku memiliki nama yang sangat indah di jagad raya ini, dan do’a yang sangat ampuh untuk hidup. ALFATH SHOLEH.